Langsung ke konten utama

Di Persimpangan Kopdar

Dokpri ilustrasi titian jalan menuju Kopdar 

Mengatrol waktu di hilir mudik kesibukan

melihat, menata dan memastikan

kalender yang tertempel di dinding berkali-kali diberondong pertanyaan

terakhir, tinta merah menodai penanggalan 

lingkaran terpampang jelas menandakan 


Ada rencana yang disembunyikan

ada maksud yang memeluk tuntas tertunaikan

ada hasrat nan kian membuncah tidak karuan

seiring waktu yang terus berjalan


Tersengal-sengal napas ini dalam persimpangan

sedang kata "nanti" sibuk membual sembari menyodorkan sogokan

ia sangat berapi-api menjegal berhamburnya kata "tidak"

tamu yang tidak pernah diinginkan 


Kata segera, segera dan segera terus berkelindanan

menggelayut di kepala menggandeng rasa penasaran pun melibatkan ketidaksabaran 

menjadi hantu bergentayangan di paruh waktu namun tak cukup menyeramkan 

ia datang mengabaikan keadaan


Rasa-rasanya ini melampui kewajaran

bak matahari merindukan pungguk bulan

di siang bolong, sore penuh keromantisan dan syahdunya malam ia datang tanpa mengucapkan salam

seperti kekasih yang tertimbun kebucinan

seperti dahaga yang tak mampu lagi tertahankan


Persuaan! 

ya, itulah yang dinantikan

yang dipanjatkan di setiap helai doa alfakir di saat perut dibajak perih sayatan lapar

namun bukan berarti ia memeluk erat-erat kealfaan

dipangku buaian ketamakan


Persuaan! 

peluluh lanta kebodohan

penebus ceruk-ceruk dahaga pengetahuan

pemantik spirit tak bertuan.


Tulungagung, 21 September 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngabdi Ka Lemah Cai

Rumpaka 17 Pupuh Pupuh téh nyaéta wangun puisi lisan tradisional Sunda (atawa, mun di Jawa mah katelah ogé kungaran macapat). anu tangtuna ngagaduhan pola (jumlah engang jeung sora) dina tiap-tiap kalimahna. Nalika balarea tacan pati wanoh kana wangun puisi/sastra modérn, pupuh ilaharna sok dipaké dina ngawangun wawacan atawa dangding, anu luyu jeung watek masing-masing pupuh. Dimana sifat pupuhna osok dijadikeun salah sahiji panggon atanapi sarana pikeun ngawakilan kaayaan, kajadian anu keur dicaritakeun. Teras ku naon disebat rumpaka 17 pupuh?, alasanna di sebat rumpaka 17 pupuh nyaeta kusabab pupuh dibagi jadi sababaraha bagian anu luyu atanapi salaras sareng kaayaan (kajadian) dina kahirupan.   Yang dimaksud ialah Pupuh yaitu berupa puisi/sastra lisan tradisional sunda (atau kalau di Jawa dikenal dengan macapat) yang mempunyai aturan yang pasti (jumlah baris dan vokal/nada) kalimatnya. Ketika belum mengenal bentuk puisi/sastra modern, pupuh biasanya digunakan dalam a...

Tiga Alasan Daras Buku Surat-surat Ti Jepang Perlu Dihelat

  Dokrpi flyer Daras Buku Surat-surat Ti Jepang Edisi Perdana Ngaji Literasi edisi Daras Buku Surat-surat Ti Jepang tidak lahir di ruang hampa melainkan berpijak pada alasan berlogika. Alasan yang menjadikan mengapa upaya review atas buku berbahasa daerah--dalam konteks ini berbahasa Sunda--menarik untuk diperbincangkan. Lantas, memang apa saja alasan yang diusung?  Menepati janji mengulas buku adalah alasan pertama. Dahulu, saya mendapatkan buku Surat-surat Ti Jepang saat kopdar SPK Tulungagung ke-dua di kediaman Prof. Naim di perumahan BMW Bago. Buku yang terdiri dari enam jilid itu lantas dibagi dua: antara saya dan Bang Woks. Masing-masing orang mendapatkan tiga jilid. Saya mendapatkan buku bagian jilid satu hingga jilid tiga. Sedangkan Bang Woks sisanya, tiga jilid terakhir. Persis di sela-sela pembagian buku, saya sempat usul untuk saling mencicipi seri buku jika sama-sama telah menyelesaikan buku bacaan yang ada. Tenggat khatam baca buku ditentukan. Dua tangan sali...

Ma'rifat dan Tasdeq dalam Syahadatain

Dokpri Buku Nadom Sunda Syahadatain   Harus ditegaskan di muka, bahwa tulisan ini merupakan seri ketiga dari postingan sebelumnya tentang mendaras  Nadom Sunda Syahadatain.  *** Secara terminologi syahadatain berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua suku kata. Syahada berarti kesaksian, sedangkan tain bermakna dua. Oleh sebab itu Syahadatain diartikan dua kesaksian. Ada pun secara istilah, Syahadatain berarti kesaksian dan keyakinan yang diikrarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah.  Kendati demikian, khalayak umum berusaha menyederhanakan Syahadatain dengan menyebut dua kalimat syahadat. Dalam konteks terminologi pendekatan akidah Islam (teologi), kesaksian terhadap Tuhan yang Ahad disebut kesaksian Rubbubiyah (ilahhiyah). Sementara kesaksian terhadap kerasulan nabi Muhammad SAW disebut dengan kesaksian Nabawiyah (rasul illiyah).  Dalam Nadom Syahadatain Sunda pemaknaan itu berusaha didedahkan lebih detail lag...