Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tugas Kepenulisan Populer dan Ilmiah

Kontekstual Kemandirian dalam Keragaman

Manusia adalah makhluk sosial. Ya... betul demikian, makhluk yang tidak mampu mandiri dalam relasi memenuhi kompleksitas kebutuhannya. Entah itu kebutuhannya yang bersifat jasmaniah atau pun ruhaniah. Entah itu kebutuhannya yang terkategorikan personal polarisasi-kontinuitas atau pun komunitas makro-kompleksitas. Bukankah manusia secara pribadi haruslah menyadari tentang adanya keberagaman dalam aspek realita kehidupan? Baik itu keragaman dalam aspek sosial, agama (spiritualitas), budaya dan lain sebagainya. Adakalanya di saat-saat tertentu, intropeksi pun menjadi sesuatu hal penting yang mesti dilakukan dan diperhatikan. Dalam artian, berperan sebagai jalan untuk mencapai hal yang bersifat keposiitifan. Mencari tujuan lokus pasti, fokus-terarah dan terkendali. Tentu saja dalam rangka memahami diri sebagai subjek yang kapabel akan hadirnya kemungkinan-kemungkinan kompleksitas secara pribadi yang terus-menerus mebayang-bayangi. Sehingga dengan kehadirannya, manusia pun  tidak...

Si Buta Mencari Tetangga

Mengenal arah namun mendadak buta. Mondar-mandir hilir mudik, kesana-kemari. Timur ke barat, selatan ke utara menjadi kabur dalam hitungan seketika. Si pemilik dua bola mata pun seolah-olah menjadi buta dalam pencariannya. Menjadi seorang amnesia yang terkujur kaku dalam ketidaktahuannya. (Sumber : https://tymask.wordpress.com/2008/06/11/) Mengenal jalur sekitar namun tak piawai memindai tempat yang pernah terjamah oleh sepasang mata. Apalagi tempat yang belum pernah terjamah indra visual sebelumnya, kemungkinan besar hanya imaji fatamorganalah yang ada dibenak kepala. Terus mengada dan menduga-duga, itulah kondisi yang sedang merong-rong sang pencari jejak tali silaturahmi yang telah dibentangkan sebelumnya. (Sumber : http://vietquers.blogspot.co.id/2012/07/blog-post.html) Mengendus dan terus mengendus, mengorek serpihan informasi akurat yang masih samar dalam tutur kata kabur informan yang disodorkan. Menelusuri sepanjang jalan dengan rentetan pertanyaan yang menjad...

Lorong Kehidupan Tak Bernyawa

Riuh kerisauan telah sirna dalam kedamaian.  Kesunyian. Tenang dalam belaian ag (angin gelebug) yang alami. Tenang dalam artian transparansi. Faktual, natural dan asali dalam keajegan kondisi tanpa manipulasi. (sumber : http://jepunbaliproperty.agenproperti.com/) Lorong-lorong sempit pun telah menguak beribu misteri. Mengupas realita kehidupan hakiki setiap insan yang menjadi penghuni. Menjadi saksi buta yang tak perlu dibayar dengan kuantitas materi. Apalagi sekadar dibayar dengan gaji buta hasil korupsi. Deretan lorong pun ketara jelas dalam form asali. Lorong yang tak butuh akan hadirnya para penghuni. Yang gemar menghimpun janji tanpa satu pun terpenuhi, manipulasi tanpa memberi solusi. Lorong yang hanya menuntut satu aksi, yakni meminta kewajibannya untuk dibersihkan setiap hari. Bak perawan yang menjadi kembang desa. Senang bersolek, wangi dan mempesona. Ditambah lagi dengan lesung pipi yang  merekah dari senyuman manis yang membahana. Tentunya dong, m...