Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Komunitas Literasi

Mendedah Dapur Parenting

Dokpri: Dr. Naharin sedang presentasi Halal Bihalal dan Parenting menjadi agenda rutin tahunan di keluarga besar Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an. Sejak melabuhkan diri di SDIT Baitul Qur'an, tercatat, saya sudah empat kali merasakan riuh: lungguh, gupuh dan suguh serta khidmat dalam kegiatan tersebut. Berarti, empat tahun sudah saya mengabdikan diri di lembaga ini. Mulanya, agenda Halal Bihalal ini tidak digabung dengan program parenting. Keduanya berjalan masing-masing, dihelat di waktu yang berbeda sesuai dengan program kerja. Akan tetapi meninjau efektivitas dan efisiensi kesempatan maka disepakatilah integrasi kegiatan. Efektivitas dan efisiensi ini merujuk pada banyak hal. Mulai dari alokasi dana, hemat energi, fasilitas, kesediaan narasumber sampai dengan momentum. Dahulu, manakala parenting berjalan di rel sendiri nasibnya sempat laa yamutu wala yahya. Partisipasi dan antusias orangtua siswa fluktuasi. Bahkan kehadiran mereka dapat dihitung jari. Indikasi itu ditin...

Distingsi Jarak dalam Kopdar

Dokpri: Menerima penghargaan RVL yang diwakili Puang Daswatia Persoalan lain yang tak kalah menarik diperbincangkan dari suksesi perhelatan kopdar adalah distingsi jarak dan bonus demografi. Dua faktor penentu terhadap kontribusi dan kuantitas partisipan anggota. Faktor yang selanjutnya menjadi bahan pertimbangan akut masing-masing personal. Kedua faktor tersebut lantas akan dibredeli terpisah secara lugas lebih lanjut.  Distingsi jarak menitikberatkan fokus pada perbedaan jarak yang terpaut di antara anggota menuju titik kumpul kopdar. Alhasil, ruang lingkup perihal distingsi jarak meliputi titik awal pemberangkatan, jarak tempuh, transportasi, alokasi waktu sampai dengan tiba di lokasi kopdar. Tampak sederhana namun butuh pengorbanan yang tidak sedikit dalam hal materiil dan tenaga.  Persoalan ini kian kompleks manakala dibenturkan dengan eksistensi anggota komunitas yang tersebar dalam skala nasional. Jelas, fakta ini menegaskan masing-masing anggota melakukan perjuangan da...

Mengubah Realitas Menjadi Fiksi Mini

Dokpri: Foto Slide Presentasi Gol A Gong  Perjalanan melalang buana ke berbagai negara benar-benar dimanfaatkan betul oleh Gol A Gong. Lahirnya novel petualangan, catatan perjalanan dan puisi yang bertajuk petualangan adalah bukti konkret pengalaman travelling itu menjadi ilham untuk berkarya tulis. Satu langkah besar yang kemudian mengubah nasib hidupnya sebagai penulis. Tidak hanya penulis namun dipercaya sebagai Duta Baca Indonesia.  Tidak cukup sampai di sana, faktanya di lain pihak beliau juga berusaha menuangkan ingar-bingar ide itu dalam formulasi yang menarik. Menarik dari segi bentuk dan isi yang dilecutkan secara nyentrik. Beliau meracik karya di luar keumuman yang berlaku. Jadi pesaran bukan? Dalam bentuk seperti apakah Gol A Gong menuangkan ide kreatifnya itu?  Fiksi mini, ya betul, itu jawabannya. Beliau berusaha memungut ide yang ditemukan dalam realitas sebagai modal untuk menulis fiksi mini. Maka tak pelak jika kemudian dalam workshop kopdar ke-2 RVL slide...

Lebih Dekat Mengenal Gol A Gong

Dokpri: Gol A Gong dengan berbagai karyanya  Belakangan kita mengenal sosok Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesia. Sejak 30 April 2021 beliau dipercaya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengemban amanah Duta Baca Indonesia periode 2021-2025 menggantikan peran mbak Nana (sapaan akrab Najwa Shihab: wartawati, jurnalis, presenter dan pemilik PT Narasi Citra Sahwahita). Amanah tepat bagi sosok literat inspiratif dan aktivis kompor gas (gigih) dalam menebar virus-virus literasi ke pelosok negeri.  Sebelum namanya booming sebagai Duta Baca, Gol A Gong memiliki latar belakang sebagai penggiat literasi maniak, novelis, penyair dan traveler sejati. Dua tahun mengelilingi Indonesia (1985-1987), lima puluh hari (1990) menyusuri Singapore-Bangkok dengan bersepeda dan napak tilas ke dua puluh negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, Kamboja, Jepang, Taiwan, Bangladesh, Bhutan, Nepal, Pakistan, UAE, Qatar, Saudi Arabia, Mesir, Hongkong, Jerman dan Timor Leste m...

Delapan Manfaat Membaca Buku Ala Gol A Gong

Dokpri: Foto Slide Presentasi Gol A Gong Dari tiga tradisi yang mengakar rumput tersebut, beliau menyoroti membaca sebagai kegiatan yang positif. Baik positif untuk fisik atau pun mental. Hemat beliau, setidaknya ada delapan manfaat yang dapat dituai dari kegiatan membaca. Manfaat itu baru akan dirasakan manakala kita mampu meluangkan waktu 30 menit per hari atau sekitar 3,5 jam per minggu untuk membaca buku. Apa sajakah itu? Mari kita simak saksama di bawah ini.  Pertama, membaca menjadikan otak lebih produktif. Membaca pada dasarnya adalah asupan gizi untuk otak. Melalui membaca banyak pengetahuan dan informasi yang diterima oleh otak. Otak akan menerima sekaligus mengolah informasi tersebut menjadi pemahaman yang tersimpan di memori. Kian disiplin membaca maka kian produktif otak melakukan kinerja.  Bukan sekadar kinerja transfer informasi dan pengetahuan dari buku menjadi bentuk pemahaman, namun lebih dari itu. Dalam kurun waktu yang panjang dan terdisiplinkan, proses itu ...

Ngaji Literasi Sesi Kedua

  (Dokpri: flayer ngaji literasi edisi 2) Alhamdulillah, perhelatan ngaji literasi perdana (12/02/2023) telah terlaksana dan berjalan lancar. Dan kini saatnya kami melanjutkan langkah berikutnya, sesi yang kedua.  Seperti halnya diketahui bersama dan termuat pada flayer yang telah dishare ke publik sebelumnya, bahwa ngaji literasi perdana membedah buku Kaca Benggala Manifestasi Diri dan Upaya Menemukan Esensi . Buku itu telah diulas oleh penulisnya secara langsung. (Untuk mengetahui seperti apa pelaksanaannya silakan mampir di postingan berikutnya). Tak lupa, Prof. Nginun Naim selaku pembina Sahabat Pena Kita (SPK) Tulungagung tampil membuka acara. Beberapa motivasi, support dan nasehat beliau sampaikan dalam kata pengantarnya.  Sedangkan Mas Woko Utoro yang merupakan mahasiswa jurusan Studi Islam Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (SATU) berperan ganda: MC sekaligus moderator mengatur jalannya acara.  Nah, jika teman-teman penasaran seperti apa ngaj...

Ngaji Literasi Sesi 3: Literasi Para Kiai

  (Dokpri: flayer ngaji literasi edisi 3) Meneruskan sesi sebelumnya, ngaji literasi sesi 3 yang akan dihelat ini membedah buku solo perdana Ketua SPK Tulungagung yang kece badai, Mas Thoriqul Aziz.  Buku Literasi Para Kiai yang bergenre non fiksi ini saya kira tidak semata-mata terlahir di ruang yang hampa, melainkan ada kaitannya dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh oleh penulisnya.  Tafsir Hadits. Ya, jurusan yang ditempuh oleh penulisnya. Saking seriusnya, bahkan Mas Thoriq (sapaan akrab) mengambil jurusan yang linier guna menggeluti bidang studi yang sama di jenjang Pascasarjana UIN SATU Tulungagung.  Signifikansi bidang studi Tafsir Hadits yang digelutinya tersebut, asumsi saya, menjadi modal utama dalam menyusun buku perdananya tersebut. Nah, seperti apakah Mas Thoriqul Aziz mendedahkan khazanah literasi para kiai? Siapa saja Kiai yang diulas dalam buku tersebut? Dalam rentang tahun berapakah karya Kiai yang dimuat? Dan masih banyak pertanyaan lainny...

Menyongsong Kopdar RVL ke-2: Membayar Tuntas Rencana Kopdar yang Kandas

  (Dokumentasi pribadi: flyer undangan kopdar RVL ke-2) Salah satu upaya menjaga eksistensi  organisasi--tak terkecuali komunitas literasi--agar tetap bernyawa adalah dengan menghelat kopi darat (kopdar). Kopi darat atau yang familiar kita kenal dengan akronim kopdar memiliki arti pertemuan; perjamuan; cangkrukan dan pengertian lainnya yang menegaskan adanya interaksi sosial internal satu kelompok. Perhelatan kopdar yang kerapkali dilakukan secara berkala dan intensitas yang terjadwalkan pada umumnya menghimpun semua anggota komunitas dalam suatu tempat. Hal ini dilakukan bukan tanpa tujuan, melainkan dengan maksud hendak mengimplementasikan beberapa tujuan. Adapun tujuan utama dari dihelatnya kopdar ialah menyambung silaturahmi, bertukar informasi, menampilkan capaian hingga membicarakan banyak tentang orientasi komunitas yang menampung mereka di dalamnya.  Dalam kerangka berpikir saling memberdayakan itulah, hemat saya, yang menjadi alasan mengapa punggawa RVL pada Sabt...