Langsung ke konten utama

Postingan

Meraba Kalangan Netizen

Detik jam masih menunjukkan pukul 06.05 wib. Satuan angka yang masih ranum untuk waktu di hari weekend, dan itu terpampang jelas di layar depan smartphone. Informasi yang kudapat beberapa saat setelah telunjuk tangan kananku menekan tombol power di bagian kanan. Entah mengapa, rasanya kedua tangan ini telah terlalu reflek dan sangat akrab dengan gawai belakangan ni. Rasa-rasanya  selalu ada jalan pintas yang mengharuskan adanya mufakat final antara gawai, kedua bola mata, kasur dan jari-jemari dalam kurun waktu yang tak terhingga. Mungkin iya, mereka sedang sibuk menghelat acara semacam reuni Akbar di hingar-bingar new normal yang tak kunjung normal. Harus diakui secara jujur, kelanyahan itu tidak lain berkutat pada muara sejubel alasan; entah itu urusan pekerjaan, organisasi, menuntaskan kewajiban, membayar hutang tulisan, mengintip informasi yang up to date, mengikuti postingan tulisan terupdate di kanal platform tertentu sampai dengan merefresh otak yang sudah mulai spaneng. M...

Pusaran Kehidupanku

Menulis bukan salah satu passion yang diwariskan oleh kedua orang tuaku.  Membaca buku bukan kebutuhan pokok yang ditekankan menjadi -isme pada setiap anggota keluarga. Sementara menjadi penulis bukan pula nasabiyah profesi yang digeluti dan diidam-idamkan ibu-bapakku. Maklum saja, aku adalah anak yang  bertumbuh-kembang dalam rahim keluarga sederhana di daerah pelosok, kampung. Mungkin Anda pribadi tahu bagaimana cara hidup orang kampung yang sangat menyatu dengan alam.  Kehidupan masyarakat tradisionalis yang menjunjung tinggi nilai-nilai; gotong-royong, saling bahu-membahu dan lekat akan syarat normalitas interaksi sosial. Ditambah lagi dengan tatanan demografis komunal, di mana masing-masing rumah warga terkondisikan secara bergerombol pada titik yang berbeda.  Mungkin kita pernah mendengar konsep persebaran penduduk seperti ini dalam pembahasan  sosiologi. Sehingga Anda dapat menerka-nerka letak geografis daerah seperti apa keluargaku tinggal.  Sementa...

Telat Mengikuti Webinar

Salah satu dampak positif dari merebaknya pandemi Covid-19 di masa new normal, ialah maraknya seminar virtual. Atau yang lebih familiar disebut dengan istilah webinar oleh khalayak ramai. Webinarpun kerap dihelat melalui berbagai platform aplikasi, misalnya saja  Zoom, Google meet, Talkfusion, Ruang Guru, Streaming via YouTube dan lain sebagainya. Pada akhirnya platform aplikasi apapun itu yang digunakan sesuai dengan kapasitas dan kepentingan pihak-pihak penyelenggara acara.  Pihak pelenggara acara pun berbeda-beda dalam menelisik wacana, mulai dari webinar yang bertajuk pendidik, keagamaan, kebudayaan, ekonomi, sosial, sejarah, pelatihan sampai dengan agenda rutin beberapa MLM online yang merekrut anggota baru sebagai target kesuksesan. Namun setelah saya amati lebih jauh, dari sekian banyak agenda webinar yang dishare di sosial media, umumnya pelaksanaan acara tersebut lebih dominan dilakukan di aplikasi Zoom plus streaming YouTube.  Misalnya saja perhelatan webinar du...

Hasrat Mengunyah Ilmu

Hampir genap dua tahun yang lalu, saya membeli salah satu karya Fahrudin Faiz yang berjudul, "Filosof Juga Manusia". Kebetulan, buku yang saya koleksi ini adalah cetakan yang kedua, terbitan tahun 2018. Pembelian buku ini sebenarnya dapat dikatakan sebagai wujud ketidaksengajaan semata-mata. Sebab, awalnya tidak ada niatan yang bulat untuk membeli produk terbaru (red; buku) di tahun itu. Bagaimanapun yang terpatri di dalam hati, hanya hendak menambah wawasan ilmu pengetahuan dengan mengikuti acara menyemarakkan maulid nabi Muhammad Saw.  Ya, saya ingat sekarang, dikala itu forum mahasiswa Bidikmisi (red; formasi) menghelat ngaji bareng bersama Dr. Fahrudin Faiz, tepatnya berlangsung di aula utama kampus IAIN Tulungagung. Sebagian orang peserta mengelu-elukan tokoh utama pengisi kajian. Namun, sayang seribu sayang, tatkala itu, saya belum tahu-menahu betul tentang siapa yang sebenarnya sedang dipergunjingkan. Mungkin betul, saya termasuk golongan orang-orang yang kudet (red; k...

Kemelut; Upaya Menyadari Hakikat Hidup

Manusia terlahir dari rahim yang berbeda namun tercipta dari sumber yang sama. Manusia memiliki orangtua yang tidak sama, namun terbesarkan dari sari pati unsur yang sama. Bertumbuh-kembang di lingkungan masyarakat yang berbeda-beda, namun berpijak pada bumi yang sama.  Dalam persepsi eksistensialisme; terpahami, masing-masing manusia seolah-olah sebelum lahir ke dunia telah bersepakat untuk menjadi pribadi yang dikehendaki versi dirinya. Mulanya terlahir tanpa secarik busana, namun kemaruk kemudian menjadi karakter candu yang terbenam jauh dalam benaknya. Karakter candu yang menghendaki segala sesuatu berada dalam genggamannya. Semua hal yang ada di dunia ini ingin dimilikinya. Ini-itu adalah deretan target yang melulu dikeruk dan ditarik untuk menyumpal hasrat nafsunya. Sayang, semakin tersumpal  hasrat nafsunya justru semakin banyak tuntutan yang harus dipenuhi oleh dirinya. Besarnya hasrat untuk memiliki dan mengejar kepuasan untuk mengecap segala sesuatu pun menjadi mimpi...

Candu Akan Nilai; Kekayaan Sejati Terletak dalam Benak Anda

Kurang lebih selang tiga bulan berlalu setelah saya mendapatkan buku gratisan dari mantan customer, sang mantan customer kemarin itu akhirnya kembali menawarkan buku gratisan kepada saya. "Mas ada buku lagi nih, minat enggak?, lek minat besok tak anterkan ke kosan Saman", pendek tukasnya dalam chat. "Wah, rezeki nomplok mubazir kalau ditolak. Iya, iya aku minat", sergah saya membalasnya dalam chat. Esok harinya, dua buah buku kembali ditentengnya menuju arah saya. Entah ada angin apa, dikala itu saya merasa beruntung sekali dapat mengenalnya sebagai teman akrab dadakan. Tetibanya ia dihadapan saya, "ini mas bukunya, yang satu bentuknya agak mirip majalah gitu, ada gambarnya lagi. Sementara yang satu ini sih bikin aku geli membacanya (ia menunjukan cover buku tipis itu sembari memajang ekspresi bergidik bukan main)".  "Awalnya aku penasaran apa isi buku itu, lah dalah pas aku baca, ternyata, hiiiihhh ngeri.  Tentang poligami", lanjutnya memberika...

Mengeja Perempuan dalam Kata Ala Lily Yulianti Farid

Hampir mendekati genap setahun saya berhasil menunda kehendak untuk mereview hasil pembacaan atas sebuah buku. Tepat pada bulan Agustus dua ribu sembilan belas, saya telah khatam membaca buku tersebut. Berjudul, "Ayahmu Bulan, Engkau Matahari" Kumpulan Cerpen, adalah anak produktivitas kesekian Ibu Lily Yulianti Farid. Seorang jurnalis kawakan yang berpengalaman halang melintang di jagat peliputan dan penulisan. Beliau (red; Lily Yulianti Farid, penulis) sendiri merupakan pecinta dunia kata yang gemar menulis cerita sejak bersekolah di putih biru, SMP. Hobi yang kemudian menjadikannya sebagai jurnalis terkemuka di harian Kompas, spesialis program Indonesia untuk Radio Jepang NHK (Tokyo) dan di Radio Australia ABC (Melbourne). Sebuah hobi  yang mengantarkannya menjadi Alumnus penerima Australian Leadership Award pada program doktoral Universitas Melbourne di  bidang gender. Selain itu, beliau juga founding father Rumah Budaya Rumata merangkap sebagai Direktur Makassar Internas...