Langsung ke konten utama

Seleksi Masa

Merebus mantra seketika

Apapun itu namanya

Mengenalnya atau tidak, tak apa

Memahaminya maupun tak bisa

Tetap saja takan pernah sama

Masing-masing mengemban beban pundak nan berbeda

Berpijak di bumi antara


Lantas di bagian kurun waktu mana aku harus mengiba?

Di langkah kaki mana aku harus berputusasa?

Pada bagian kerling keberapa aku harus memutuskan berhenti memahaminya?

Dalam jengkal keyakinan setebal apa aku harus bersua?


Akhirnya aku leluasa,

Sesekali menebar prasangka tak mengapa

Tak lagi harus berlaga pilon berpura-pura

Menimbang-nimbang kemerdekaan tiada tara

Menghitung-hitung kebaikan kehendak tak terhingga

Bahkan engkau mengkalkulasikan semuanya

Entah itu segunung pun atau seujung kuku miliknya


Kenyataannya?

Diam-diam engkau menabuh genderang curiga

Menuding-nuding setiap kepingan dosa kesalahan pena

Pada malaikat pencatat amal itu dirimu telah durhaka

Dan engkau sibuk mengekalkannya

Mengutuk-ngutuk dengan curah caci tak terduga


Senyum sinismu kini tak lebih hanyalah tanda

Sumpah serapah tak ayal mengumpat jejak janjimu yang lama

Setiap kalimatmu kini tak lagi bernyawa

Marwah tutur katamu habis terlumat keraguan masa


Lalu mana mungkin engkau akan mengembara

Menunggang kuda Sembrani nian perkasa

Mengapung jauh karena titel perjaka

Mengibas-ngibas ekor pesona yang menjerat siapa saja


Dan aku sedang sibuk memahat citra

Mencacah takdir dengan muara luka

Menerka-nerka kebenaran dalam bahasa hasut dan adu domba

Menjadikan surga sebagai patokan kebaikan atas sesama

Menggolongkan siapa-siapa sesuka hati sebagai penghuni neraka


Tapi sejak kapan aku menenun peduli dan meratap demi menyesalinya?

Bukankah sejak perputaran detik yang kesekian perhatianku telah tergadaikan tanpa sisa?

Bukankah harga diriku telah luntur tanpa menyisakan secuil rasa?

Bukankah setiap manusia candu melatah demi yang ia puja?


Sengsara karena dahaga 

Berduka lama karena citanya

Tak sungkan nista karena perjuangannya

Tak butuh waktu lama untuk manusia menjadi papa


Namanya bisa saja terabadikan nisan sekarang juga

Tak perlu menunggu engkau menyadarinya

Pun Tuhan telah menjadikan Kun Fayakun sebagai takdirnya

Sementara engkau terperangkap dalam siksa

Merahimkan tiap-tiap jengkalan masa

Menjadi sirna


Tulungagung, 16 Oktober 2020



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Penjajak Komik

Dokpri: Qadira dengan koleksi komiknya Belakangan saya dibuat takjub melihat pemandangan tak biasa di kelas 2 SDIT Baitul Quran. Takjub bukan karena huru-hara sedang meluluhlantakkan kursi dan meja. Bukan, bukan karena mereka sedang melakukan kegaduhan, bullying dan kenakalan meronta-ronta yang tampak di depan mata melainkan fenomena yang menyegarkan hati.  Bukan hanya maknyes di hati saya kira namun fenomena yang membuat hati merasa bangga: terketuk, kagum dan penasaran sekaligus menampar pipi--bagi siapa pun yang melihat. Lha, memang apa? Baca komik. Cuma baca komik? Tentu tidak. Tidak sedangkal itu kejadiannya.  Almira dan Qadira adalah dua siswi yang membuat saya takjub itu. Mereka berbeda dari siswa-siswi lain. Jika umumnya anak menjadikan semua tempat untuk bermain, bermain di semua tempat sesuka hati, bahkan anak hanya mau membaca saat kegiatan belajar mengajar belangsung maka berbeda dengan dua siswi tersebut. Almira dan Qadira lebih suka memanfaatkan waktu luang berte...

Ngabdi Ka Lemah Cai

Rumpaka 17 Pupuh Pupuh téh nyaéta wangun puisi lisan tradisional Sunda (atawa, mun di Jawa mah katelah ogé kungaran macapat). anu tangtuna ngagaduhan pola (jumlah engang jeung sora) dina tiap-tiap kalimahna. Nalika balarea tacan pati wanoh kana wangun puisi/sastra modérn, pupuh ilaharna sok dipaké dina ngawangun wawacan atawa dangding, anu luyu jeung watek masing-masing pupuh. Dimana sifat pupuhna osok dijadikeun salah sahiji panggon atanapi sarana pikeun ngawakilan kaayaan, kajadian anu keur dicaritakeun. Teras ku naon disebat rumpaka 17 pupuh?, alasanna di sebat rumpaka 17 pupuh nyaeta kusabab pupuh dibagi jadi sababaraha bagian anu luyu atanapi salaras sareng kaayaan (kajadian) dina kahirupan.   Yang dimaksud ialah Pupuh yaitu berupa puisi/sastra lisan tradisional sunda (atau kalau di Jawa dikenal dengan macapat) yang mempunyai aturan yang pasti (jumlah baris dan vokal/nada) kalimatnya. Ketika belum mengenal bentuk puisi/sastra modern, pupuh biasanya digunakan dalam a...

Merawat Jejaring Ala Kang Ajip

Dokpri flyer Daras Buku Surat-surat Ti Jepang Karya Kang Ajip Rosidi Daras Buku Surat-surat Ti Jepang seri 1 memasuki edisi kedua. Sesi ini (insyaallah) akan mengulas 2 surat, yakni surat yang ditujukan kepada R. Sadeli Winantareja dan H. I. Martalogawa. Dua surat yang ditulis beriringan, 26-27 Juni 1980 di Kyoto.  R. Sadeli merupakan kawan Kang Ajip di Purwakarta. Ia merupakan seorang perwira. Status abdi negara menjadikan mereka jarang bersua namun silaturahmi di antara keduanya terus terjaga. Saat Kang Ajip berada di Bandung, di Jakarta ataupun di kampung halaman terkadang berkunjung ke rumahnya.  Sedangkan saat bermukim di negeri Sakura, surat-surat berbahasa Sunda dilayangkan sebagai tanda cinta. Komunikasi di antara keduanya langgeng. Jarak bukan penghalang untuk menyambung persahabatan. "Teu paremeun obor", istilah Sunda menyebut.  Hal yang sama juga Kang Ajip lakukan kepada H. I. Martalogawa. Seorang sahabat yang tinggal di Jakarta. Sahabat yang memang aktif dalam...