Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Lupa Sekolah Mak!

Apa kabar sekolah? Apa engkau dalam keadaan baik-baik saja di sana? Apa engkau sekarang masih setia merawat harapan, asa dan cita-cita kaula muda dalam duka Corona? Pun sahabat-sahabat juang yang telah lama bersembunyi di balik rentangan jarak  Semoga kalian baik-baik saja menahan rindu yang terus bergejolak Apa kabar gedung-gedung dengan tembok yang kokoh? Atap dan semua isian yang terjaga pagar berkawat Apa engkau sudah mulai berkarat? Atau malah keterpisahan ini menjadikan ego menara gadingmu menjadi kumat? Kelengangan yang tak kunjung berujung ini justru membuatmu tersenyum jail dengan sikap bodo amat Bodo amat? Hahahaha... Siapa? Aku? Atau mungkin engkau bersimpuh di hadapan peraturan yang dikukuhkan para penjabat Engkau membudak atas nama maslahat, institusi dan riwayat Bodo amat! Biarkan orangtua berduyun-duyun mendaftarkan ribuan anaknya hingga sebulan kemudian tamat Biarkan mereka berlomba-lomba memuja nilai hingga kiamat Biarkan mereka bangga dengan angka-angka yang diseb...

Syukur di Balik Kerapuhan Rasa dan Psikis di Hari Raya (Bagian 4)

Alur tulisan ini bersambung dengan unggahan sebelumnya. Sebelum membaca pastikan Anda sudah membaca episode sebelumnya: Bagian 2: https://www.kompasiana.com/manganwar/60c771fdd541df1aa63dcfd3/syukur-di-balik-kerapuhan-rasa-dan-psikis-di-hari-raya Bagian 3: https://www.kompasiana.com/manganwar/60c7e6168ede483d3e43bad2/syukur-di-balik-kerapuhan-rasa-dan-psikis-di-hari-raya Stigma dan stereotip yang berpangkal tajassus Sementara pola yang terakhir, yakni stigma dan stereotip yang berpangkal tajassus telah menjadi bumbu penyedap rasa dalam silaturrahim pasca lebaran.  Stigma dalam konteks ini bukan semata-mata bermakna tanda atau ciri negatif yang menempel pada pribadi tertentu  karena pengaruh lingkungannya melainkan justru citra negatif itu ada dalam diri seseorang karena pelabelan melalui tanda atau ciri yang kian masif digencarkan secara personal yang diamini khalayak ramai. Artinya, di sana ada proses pembentukan hingga akhirnya pelabelan itu menjelma menjadi kenyat...

Syukur di Balik Kerapuhan Rasa dan Psikis di Hari Raya

"Sadar ataupun tidak, salah satu hal yang banyak mengundang keprihatinan diri di hari yang fitri adalah ketidakmampuan kita keluar dari tradisi tajassus dan gibah yang terus mengakar dan menghegemoni. Tidak pandang bulu, siapapun itu seakan-akan pantas untuk dikutuk dan dikuliti" , Dewar Alhafiz. Seperti halnya koin yang memiliki dua sisi. Pemberlakuan aturan larangan mudik lebaran Idulfitri itu pun pada kenyataannya tidak hanya menampilkan tekanan psikis dan kerapuhan rasa yang bersemayam dalam benak masing-masing kita, melainkan berpotensi juga sebagai ajang untuk memanjatkan syukur. Lah, bersyukur di tengah himpitan bencana dari segala aspek kehidupan memang bisa? Jikapun itu bisa, syukur seperti apa? Apakah syukur itu seperti halnya orang yang merokok? Meskipun terhitung sudah habis satu batang namun tetap saja menguntungkan. Masih saja menyisakan puntung rokok. Bagian filter yang tidak terbakar.   Atau mungkin, syukur itu mirip dengan etika yang menjadi falsafah hidup ma...

Buah Tangan Keheningan

Tak selayaknya kita melulu takut dalam kesendirian. Tenggelam dalam keheningan. Toh pada akhirnya setiap manusia kembali pada ketiadaan. Meratap dalam pengasingan. Untuk apa berjumawa dan pongah tinggi-tinggi karena deretan gelar yang kau punya; jika akhirnya yang terjadi hanya hanyut dalam sistem keegoisan perut dan di atas lutut, membebani orang-orang dengan penilaian pincang sembari mengutuk-ngutuk hidup dalam banyolan akut. Waraskah Anda? Tulungagung, 22 Juli 2020. Aku berpikir maka aku tidak pernah menjelma; yang ada hanya distorsi dan rekonstruksi serpihan kesadaran yang bermula dari ketiadaan dan pengakuan. Masa bodoh tentang si waktu. Yang kutahu sekarang, hanya tentang memikul proses dan usaha yang keras. Kalangan bawah kerja keras, kalangan atas ngegas, sudah biasa. Yang luar biasa itu kesalingan dan pengertian dalam mengoreksi kesalah-kesalahan yang pernah dilakukan untuk menjadi lebih baik. Tulungagung, 23 Juli 2020. Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk memudahkan hidup d...

Persaudaraan Utang dan Janji

 "Seperti halnya rindu yang harus tuntas terluapkan, utang pun tak akan pernah lunas sekadar ditebus dengan janji imajinatif melainkan hanya butuh cukup bukti yang konkret. Ajining diri soko lathi. Ajining janji soko ati lan driji", Dewar Alhafiz. Mengurai Bongkah Kesangsian Kenapa setiap orang lebih gemar mengobral janji manis di kala membutuhkan pinjaman uang atau materi? Kenapa manusia rela hati menghabiskan waktu dengan basa-basi hanya untuk mengutarakan satu maksud yang dikehendaki? Mengapa dengan sengaja manusia mempertaruhkan harga kata hanya untuk merajut sepenggal kalimat janji supaya orang lain mau menaruh simpati? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja menampakkan batang hidungnya dalam klise kusut pikiran saya. Hingga akhirnya berhasil menarik rasa penasaran saya yang kian membuncah di pucuk ubun. Pendek kata, pertanyaan itu justru menjerumuskan saya pada kehendak mengurai kembali persinggungan benang merah di antara keduanya; keterlibatan antara utang dan janji itu...

Utang, Geliat Menulis dan Prinsip Hidup

"Utang ya disaur bukan malah berkelit. Gitu aja kok repot", Dewar Alhafiz. Terhitung sejak berganti nama dan beralih ruang grup WhatsApp -dari Komunitas menulis menjadi Sahabat Pena Kita Tulungagung- pekik takbir literasi belum saja sampai di ujung ubun dan menjelma jiwa bagi para penghuni di dalamnya. Tak terkecuali saya pribadi yang banyak mencekal lengan ide dengan sengaja. Sering memilih menunda kesempatan untuk menuangkan ide yang muncul, belum mampu istakamah dalam menulis Sunnah bahkan sekadar untuk menggugurkan kewajiban saja lebih banyak berkelit dalam segunung alasan kesibukan, alhasil mengutang pun adalah pilihan. Tapi masalahnya, sejak kapan mengutang itu menjadi pilihan? Sejak kapan mengutang itu diperbolehkan? Apakah lapak obral utang itu mulai dijajakan di kala masing-masing kita memilih untuk bergabung menjadi bagian dari grup WhatsApp Sahabat Pena Kita Tulungagung? Apakah kewajiban menulis itu benar-benar telah berikhlas hati mana kala mayoritas memilih untuk...

Pentingnya Karakter Kemandirian Belajar Siswa

Salah satu tanda keberhasilan pembelajaran di ruang lingkup sekolah ditunjukkan dengan adanya sikap kemandirian di dalam diri siswa. Menurut Suharnan (2013: 67) kemandirian adalah salah satu komponen terpenting dalam karakateristik kepribadian yang berkaitan erat dengan adanya proses-proses kreativitas. Dengan demikian, kemandirian atau perilaku mandiri dapat dikatakan sebagai wujud kecenderungan pribadi yang sama sekali tidak ditentukan oleh orang lain, melainkan diri pribadilah yang menentukan aktivitas (tindakan) yang hendak dilakukan.  Aktivitas pribadi yang dimaksud ialah mencakup; pola pikir (berpikir), memecahkan masalah, membuat dan menentukan keputusan; melaksanakan tugas dan tangggungjawab. Bahkan Sternberg (1997) menetapkan kemandirian sebagai salah satu terpenting dari dua puluh karakter yang dimiliki oleh mereka successfully intelligent people (orang-orang cerdas yang sukses). Kemandirian siswa tersebut dalam konteks proses pembelajaran dimulai dengan kemandirian belaj...