Langsung ke konten utama

Postingan

Golongan Manusia Karet

 Hemmm... perbincangan ini mari kita mulai dengan beberapa buah pertanyaan ringan. Ya ringan, seringan ngemil satu-dua bungkus snack yang paling kita sukai. Jam berapa si anda bangun tidur? Duluan ayam berkokok atau anda mendahului ayam berkokok? Setelah adzan Subuh berkumandang? atau malah setelah matahari menggeliat?  Mungkin iya, pertanyaan ini agak sedikit sensitif bagi mereka yang mendaulatkan diri sebagai pecinta begadang. Termasuk pula sebagian orang yang memang memiliki kesulitan untuk memejamkan mata hingga bandul jam benar-benar telah menunjukkan dini hari.  Sebutkan saja golongan yang kedua itu dengan si penderita insomnia. Satu golongan yang hobinya membuat story di medsos dengan kurasi waktu di atas jam dua belas malam hingga menjelang subuh tiba.  Entah itu golongan yang pertama ataupun kedua, secara hukum kausalitas keduanya hampir dapat dipastikan selalu ada alasan yang melatarbelakanginya.  Golongan pecinta begadang misalnya, tak mungkin mereka ...

Setiap Manusia Berfilsafat

 Apa gerangan yang ada di benak Anda ketika mendengar kata filsafat? Mampukah Anda memberi sedikit penjelasan tentang makna filsafat dengan sangat sederhana? Tanpa njlimet, menyisipkan embel-embel tak berlogika, stigmatif dan ketakutan akut yang tak berdasar. Pertanyaannya, apakah bisa? Mungkin kita masih ingat dengan hot news atau pun berita tentang fluktuatif perilaku keagamaan seseorang yang dikait-kaitkan dengan filsafat. Di sana,  filsafat dihakimi, dijadikan sebagai kambing hitam atas memudarnya keyakinan dan peralihan agama. Seolah-olah filsafat adalah biang kerok atas chaos yang ada.  Padahal, fluktuatif perilaku keagamaan seseorang sendiri sangat dipengaruhi berbagai macam faktor internal dan eksternal yang terkadang tak mampu diterka-terka begitu saja. Sementara, kebiasaan buruk manusia adalah gemar menghakimi, mendikte dan memaksa. Utamanya, mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya pada kesempatan yang ada di depan mata. Nah, itu dia masalahnya, tak sedikit oran...

Menyongsong Dua Perayaan Sekaligus

Minggu 25 Oktober 2020, Alhamdulillah, taman pendidikan Qur'an Luar Biasa (TPQLB) Spirit Dakwah Indonesia Tulungagung telah menggelar dua lomba secara serentak dalam rangka memeriahkan peringatan hari santri nasional dan Maulid Nabi Muhammad Saw. Dua lomba tersebut ialah mewarnai dan menggambar kaligrafi. Kategori lomba mewarnai dikhususkan untuk santri disabilitas yang berusia lima-sepuluh tahun. Sementara santri yang berusia sebelas sampai dua puluh tahun ke atas diarahkan untuk mengikuti lomba menggambar kaligrafi. Dalam pelaksanaan lomba mewarnai, para asatidz telah menyediakan satu lembar gambar yang bernuansa islami. Deskripsi singkat dari gambar tersebut di antaranya; satu bangunan mesjid megah yang dikelilingi hijaunya alam, di mana tepat di pelataran masjid tersebut terdapat satu keluarga utuh dan bahagia.  Tampak jelas, di sana berada seorang ibu yang menentang makanan ringan, sang ayah yang membawa beberapa gelas di atas baki dan putra-putrinya yang riang gembira bermain...

Bu Tejo dalam Peran Sebagai Citra Anak Zaman

Kurang lebih tiga bulan yang lalu jagat maya dihebohkan dengan boomingnya film pendek berjudul 'Tilik'. Salah satu film karya anak bangsa yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo, Ravacana Film yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Film Tilik sendiri sebenarnya telah diproduksi semenjak 2018. Namun entah karena alasan apa, kemudian film itu menjadi trending topik dan bahan pembicaraan yang empuk kalangan netizen di dua tahun berikutnya.  Upaya menerka-nerka alasan pun kian tumpah ruah ke permukaan. Film Tilik yang nangkring di kanal YouTube Ravacana Films akhirnya menyedot berjuta-juta pasang mata yang tercekik rasa penasaran. Jika diperhatikan, kian hari viewernya terus melesat hingga menyentuh angka 23 juta kali ditonton. (Satuan kalkulasi viewer hari ini). Belum lagi ditambah dengan jumlah viewer repost film Tilik pada akun YouTube lain yang berusaha memanen hasil keboomingan tersebut. Seperti biasanya, akan selalu ada tangan-tangan jahil ...

Seleksi Masa

Merebus mantra seketika Apapun itu namanya Mengenalnya atau tidak, tak apa Memahaminya maupun tak bisa Tetap saja takan pernah sama Masing-masing mengemban beban pundak nan berbeda Berpijak di bumi antara Lantas di bagian kurun waktu mana aku harus mengiba? Di langkah kaki mana aku harus berputusasa? Pada bagian kerling keberapa aku harus memutuskan berhenti memahaminya? Dalam jengkal keyakinan setebal apa aku harus bersua? Akhirnya aku leluasa, Sesekali menebar prasangka tak mengapa Tak lagi harus berlaga pilon berpura-pura Menimbang-nimbang kemerdekaan tiada tara Menghitung-hitung kebaikan kehendak tak terhingga Bahkan engkau mengkalkulasikan semuanya Entah itu segunung pun atau seujung kuku miliknya Kenyataannya? Diam-diam engkau menabuh genderang curiga Menuding-nuding setiap kepingan dosa kesalahan pena Pada malaikat pencatat amal itu dirimu telah durhaka Dan engkau sibuk mengekalkannya Mengutuk-ngutuk dengan curah caci tak terduga Senyum sinismu kini tak lebih hanyalah tanda Sump...

Hujan dan Kesumpekan Manusia

 Derasnya hujan yang turun di tengah malam kemarin nyata belum benar-benar lekas berpamitan pulang, dan itu terlampiaskan sudah dalam ritme gerimis di Senin pagi sebagai tuan.  Tuan yang kehadirannya kerapkali banyak diperbincangkan, entah itu oleh para atasan pun atau khalayak kerumunan karyawan. Tuan yang kehadirannya selalu dalam persimpangan di antara dua keadaan; beranjak dari rasa malas dan ketepakasaan. Tuan yang lambat-laun menjadi tanda sukses-tidaknya satu tujuan dan tindakan. Loh, mengapa demikian? Sebagai faktanya, bukankah setiap masing-masing kita lebih suka menghabiskan waktu libur tiba bersama dengan keluarga tercinta? Bukankah, dikala waktu libur tiba, kepayahan yang acapkali kita cari adalah kebebasan dari setiap tekanan yang ada.  Alhasil sebagai bentuk realisasinya, bercengkrama, mengumbar tawa dan saling melontarkan sepenggal humor atau berbagi pengalaman dalam wujud cerita bersama pasangan dan anak-anak adalah candu yang senantiasa diidam-idamkan ata...

Tekanan Psikis sebagai Kawan Keseharian Anak

Selain mengondisikan kembali peran orangtua dan ketergantungan atas internet, pembelajaran jarak jauh juga akhir-akhir ini dipandang berakibat fatal atas keadaan psikis anak didik. Hal yang demikian diceritakan betul oleh beberapa teman yang berprofesi sebagai guru honorer ataupun guru tetap di dua-tiga sekolah. Mereka menegaskan bahwa banyak anak didiknya yang merasa rindu dengan rutinitas pembelajaran di sekolah.  Selain itu, ditemukan pula tidak sedikit di antara anak didik yang mengeluhkan capeknya proses pembelajaran dari rumah. Bagaimanapun proses pembelajaran yang sekadar mengerjakan bejibun tugas tanpa penjelasan yang gamblang membuat anak didik mudah bosan dan jenuh. Lebih lanjut, keluh-kesah tersebut bermula dari cara membimbing dan tuntutan yang dikehendaki oleh orangtua terkadang lebih kerap tampil dengan luapan emosional yang merundung mental anak didik.  Celah borok atas pengalihan proses pembelajaran dari ruang publik ke ruang domestik yang menyebabkan adanya pe...