Langsung ke konten utama

Postingan

Edisi Refleksi Novel

Pembacaan Singkat Atas Novel Cantik Itu Luka Tergopoh-gopoh saya menelusuri jejak karya pena Eka Kurniawan (berikutnya disebut: penulis), “Cantik Itu Luka”. Sang novelis ulung dengan serangkaian kata-kata gila luar biadab. Istilah klop teruntuk novelnya yang teramat keren. Mulanya saya dibuat terkejut dengan sodoran babak cerita yang begitu terasa ujug-ujug. Namun, hal itu justru menjadi sambutan hangat untuk memasuki racikan cakrawala kisah yang sangat picik. Menjebak pembaca jatuh pada rasa penasaran. Menghardik kelatahan mulut pembaca untuk tidak sampai melewatkan setiap patahan kata yang tertuang. Baik koma ataupun titik. Nampaknya, sang penulis ingin menyadarkan pembaca untuk menjadi kutu buku sejati. Sepertinya   syair-syair Rumi telah   merasuk sebagai pengingat, bahwa perjuangan membaca dan menulis kita selama belajar jangan disia-siakan kusam karena tertimbun hasrat main gadget. Ah, sialan. Begitu cerdik penulis mengisyafkan pembaca. Kepicikannya kian menjadi s...

Refleksi

Aku, Antalogi dan Membaca Kurang lebih dua pekan yang lalu , salah seorang teman akrab singgah di kos saya. Kos yang rupanya hampir sulit dibedakan dengan asrama putra yang biasanya disebut kobong (istilah bahasa sunda menyebutkan). Kamar panjang tanpa sekat, yang dijejali dengan deret lemari-lemari minimalis yang terbuat dari kayu dan triplek. Itupun tidak setiap lemari berisi pakaian, melain buku bacaan. Bahkan ada yang nampak lebih parah lagi. Buku   tertata rapih di dalam lemari, sementara pakaian bergelantungan di mana-mana. Belum lagi di bagian sela-sela deret lemari tersebut, terdapat rak yang dipenuhi buku yang wujudnya acakadut. Tidak tertata rapih. Dan kebetulan buku milik saya, berada tepat di bawah meja. Begitulah dua-tiga orang mendeskripsikan kamar kos saya. Amburadul memang. Namun, bukan itu yang hendak saya curhatkan. Melainkan mengenai perbincangan hangat kami (saya dan teman akrab) yang hilir-mudik kemana-mana. Kebetulan tatkala itu, di atas karpet yang se...

Catatan Pagi

Manakah yang Lebih penting? Kehidupan adalah proses pergulatan waktu dan kesempatan yang terus berulang-ulang. Perjumpaan dua dimensi yang kian hari ketara nyata sikut-menyikut, saling mengunggulkan. Dialog panjang yang tak pernah usai   selama ada nafas yang masih berhembus. Apabila dianalogikan sebagai tunggangan, ibarat kuda sembrani yang harus kita kontrol dan kendalikan untuk sampai pada tujuan. Tentu ini bukan sekadar kultusan takdir yang hanya cukup disumpal dengan sikap nrima ing pandum tanpa ikhtiar, layaknya qadariah mengasumsikan. Mengapa demikian? Sebab proses gejolak hidup terus berjalan. Rentetan masalah terus datang silih bergantian. Bak detakan waktu yang terus berputar menenteng berjubel problematika dalam wujudnya yang kasat mata sebagai ujian. Dalam menyikapi hal yang demikian, nampaknya bukan lagi suatu hal yang mengherankan apabila Rene Descartes meretaskan diri dengan cogito ergo sum yang menggebu-gebu. Bukan waktu yang menjadi supir handal dalam memak...

Masih Refleksi

Refleksi Mengaji Mengasah Jati Diri Indonesia 2 Sebungkus roti tanpa berlabelkan syariah dan segelas air mineral dengan merk popular yang telah saya lumat habis tempo hari, mengingatkan kembali keremang-remangan ingatan saya tentang IAIN mengaji bersama budayawan kondang Sujiwo Tejo, bapak Lukman Hakim Saifudin selaku Menteri Agama RI, Gus Reza sebagai pengasuh pondok pesantren yang beken di Kediri dan tentunya Rektor favorit kita, bapak Maftukhin, pelawak akademik handal yang pandai mencairkan keadaan. Salah satu agenda acara dalam memeriahkan dies natalis ke 50 IAIN Tulungagung ini telah berhasil menjadi magnet yang memuarakan ratusan masa. Kaum sarungan, pencinta sholawat, mahasiswa dan mereka yang hendak bersapa hangat dengan pak menteri kita. Termasuk para janc*kers yang berambisi bermuajahah dengan sang presidennya. Semuanya berduyun-duyun dan berbaur menjadi satu di lapangan merah yang sebagian permukaannya telah berbalut karpet, bersafari wisata religi ke kampus perabadan...

Refleksi Acara

Refleksi Mengaji Mengasah Jati Diri Indonesia Terhitung empat hari sudah acara ngaji dengan tema “Kita Ber-Indonesia Kita Beragama” bersama budayawan masyhur Presiden Janc*kers Sujiwo Tejo, Gus Reza beken selaku pengasuh PP Al Mahrusiyyah Lirboyo dan sang rektor kampus kita tercinta, Bapak Maftukin. Beliau bertiga hadir sebagai narasumber utama disempurnakan dengan salah seorang bintang tamu selaku host yang sangat dielu-elukan kedatangannya, Bapak Menteri Agama RI kita, Lukman Hakim Saifuddin. Ini merupakan salah satu agenda besar dari serangkain acara milad ke-50 IAIN Tulungagung. Semoga saja, topik ini belum begitu basi untuk dibicarakan. (Hanya ujaran alibi malas saya yang urak-urakan untuk memberi catatan molor). Sedikit menggerutu dengan nada yang sangat disayangkan, Gus Tejo harus menerima kenyataan bahwa yang menjadi host untuk performanya kali ini ialah seorang lalaki. Bukan seorang perempuan impian yang selalu memberinya pencerahan dikala tampil di muka umum. Namun m...

Point of View

Kesuksesan itu Seperti ini, Katanya Nasihat sang motivator muda masih saja jengah terngiang dikedua telinga. Risau rasanya, apabila isi kepala ini dibajak semena-mena oleh serangkaian   kalimat kompor yang terus meluap-luap. Semoga saja tidak membawa kabar duka layaknya tabung elpiji yang meledak. Untuk itu, biarkanlah si fakir ini, sedikit berceloteh ngawur kemana-mana. Anggap saja, benang ruwet yang harus anda pintal dengan penuh kesabaran dan harapan menuai makna. Kesangsian mendefinisikan istilah sukses menjadi bidan handal tertuangnya seonggok tulisan ini. Rong-rongan pertanyaan pun tidak dapat dinafikan. Seperti halnya, apa sebenarnya yang dimaksud sukses itu? Siapakah orang sukses itu? Bagaimanakah cara untuk mencapai kesuksesan? Dan kenapa seolah-olah hidup selalu harus menuju dalam wujudnya yang sukses?. (Pertanyaan sama yang pernah disodorkan salah seorang teman saya tempo hari dikala mulutnya belepotan dengan sambal). Di satu sisi seolah-olah sukses itu adalah tita...

Masih Review

Time Is Choice Masih berkutat dalam pekikan manja sang inspirator muda, Syafii Efendi. Bukankah khalayak orang sepakat dengan kiasan time is money?, waktu adalah uang. Apabila itu benar, namun mengapa setiap orang tidak pernah sampai pada titik kemapanan yang sama?. Padahal umumnya setiap orang memiliki waktu yang sama. Diberi peluang yang berkarakter sama. Tapi toh kenapa selalu berada dalam titik jurang kesenjangan yang terus menganga?. Sadar ataupun tidak, telah membuat distansi dan hierarki sosial yang sangat ketara. Miskin-kaya begitu kontras dalam perlakuan sosial masyarakat, cermin dunia. (jangan jawab takdir, jika anda tidak ingin dilabeli hadramautisme). Apakah yang salah? Dan siapakah yang harus dipersalahakan? Tatkala disuguh wujud stratifikasi sosial yang menjadi sekat-sekat pembatas dalam komunkasi antar masyarakat. Apakah ini merupakan buah perasan dari pemaknaan yang salah terhadap kiasan time is money?. Mendefinisikan waktu yang identik dengan kapitalisme. Memukul...