Langsung ke konten utama

Postingan

Tongkat Kehidupan

Gambar: Dokpri flyer Poadcast Ruang Inspirasi  Senang rasanya saya berkesempatan menjadi nahkoda di poadcast Ruang Inspirasi perdana Sahabat Pena Kita (SPK). Perdana dalam konteks ini bukan berarti pembuka melainkan kegiatan perdana dalam pengurusan baru; meneruskan program kerja yang sempat mandeg di sesi pengurus sebelumnya. Pantas tak pantas, ya begitulah adanya. Begitulah saya ingin mengatakannya. Tak kurang dan tak lebih, tanpa ada tendesi apa pun di dalamnya. Perihal tercetusnya poadcast Ruang Inspirasi akan diulas pada tulisan selanjutnya.  Poadcast perdana ini mendedah buku Tongkat Mbah Kakung. Buku Tongkat Mbah Kakung adalah karya solo perdana mas Novel Mukholis, S. Sos. (selanjutnya disebut mas Novel). Ia merupakan anggota Sahabat Pena Kita (SPK) cabang Tulungagung. Anggota yang diakuisi lima hari sebelum perhelatan poadcast dilaksanakan. Tampak mendadak, namun sebenarnya jauh-jauh hari sebelum itu telah direncanakan untuk menggait mas Novel sebagai bagian dari SPK T...

Make a Deal

Gambar: Dokumentasi Pribadi saat bertamu di kediaman mas Novel Jauh sebelum bedah buku Tongkat Mbah Kakung digemakan sebenarnya secara pribadi saya berinisitif hendak mengundang mas Novel ke SPK Tulungagung. Inisiatif itu muncul tatkala saya mengamati bagaimana himmah dan ghirah literasi dalam dirinya yang kian meggeliat. Terlebih lagi, 2 tahun belakangan ia berhasil melahirkan dua buku solo: Tongkat Mbah Kakung: Catatan Lockdown dan Teman Ngopi (Ngolah Pikir) . Dua buku solo yang lahir dibidani oleh Nyalanesia.  Apa itu Nyalanesia? Nyalanesia merupakan star up yang fokus bergerak dalam pengembangan program literasi di sekolah secara nasional. Karena ruang lingkupnya nasional maka semua jenjang satuan pendidikan dapat mengikuti Nyalanesia. Hanya itu? Tidak. Dalam prosesnya tim Nyalanesia tidak hanya fokus memberikan pelatihan, sertifikasi kompetensi dan akses pada program yang prover,  melainkan juga memfasilitasi siswa dan guru untuk menerbitkan buku.  Konsepnya ya mem...

Karmina: Mencari Ilmu

Gambar hanya pemanis #Karmina Oleh: Roni Ramlan  1. Beli koran Jawa Pos di pasar Biru Hidup menjadi mudah dengan ilmu 2. Liburan panjang ke negeri China  Dengan ilmu hidup lebih bermakna  3. Makan soto Lamongan di pinggir jalan Ayo belajar menggapai rida Tuhan 4. Membaca buku di pagi hari Dengan menulis hidup lebih berarti  5. Jalan-jalan ke pantai Parangtritis  Jangan malas ayo menulis  6. Kuda delman langganan berkacamata  Pelajar tak boleh malas untuk membaca  7. Minum ronde di malam Rabu Muda-mudi harus rajin menuntut ilmu  8. Karena gempa piring pecah Dengan ilmu masa depan cerah 9. Buah belimbing rasanya masam Dengan ilmu hidup tidak suram 10. Ubi jalar dikukus empuk  Semangat belajar harus dipupuk  Ciamis, 29 Juni 2024 ***** Ini merupakan postingan pertama saya tentang karmina. Jadi jangan heran jika masih belum begitu lihai dan mempesona. Kendati begitu, saya selalu terbuka akan masukkan dan pandangan yang membangun untuk ke...

Mendedah Keimanan Seorang Penulis

  Gambar hanya pemanis: Buku Seni Merayu Tuhan Satu waktu seorang lelaki ahli IT sempat bertanya kepada saya tentang apa keuntungan bergabung dengan komunitas literasi. Bukan hanya bergabung namun soal mengelola dan reward apa yang hendak diterima. Diterima secara pribadi atau pun oleh seluruh anggota di dalamnya.  Secara intens, ia mencecar saya dengan berondong pertanyaan fundamental bekerja. Sudah dapat ditebak saya kira, akan kemana muara maksud dari pertanyaan itu berlabuh. Tak lain dan tak bukan deretan pertanyaan hanya berujung materialistis semata. Sebab, ia berpikir, segala hal yang melibatkan tenaga dan pikiran harus diganjar dengan materiil. Jika tidak demikian, tampak zalim dan sia-sia. Lantas, bagaimana tanggapan saya? Dengan santai saya menyodorkan jawaban alakadarnya. Komunitas itu memberikan banyak pengalaman, pengetahuan dan jejaring relasi serta investasi di masa depan. Tentu saja semua itu tidak akan didapatkan secara cuma-cuma di luar sana. Salah satunya, a...

Telanjur Kecewa

Gambar tangkap layar dari aplikasi Google Workspace yang nge-lag Kecewa bukan kepalang! Ya, mungkin ungkapan itu yang benar-benar menunjukkan perasaan saya saat mendapati aplikasi google workspace nge-lag secara tiba-tiba. Padahal baru beberapa saat saya menyelesaikan satu tulisan di sana. Tulisan dengan tajuk: Memupuk Semangat Berhaji Sejak Dini itu sungguh malang nasibnya. Malang, sebab sebelum ia lahir ke dunia dengan normal harus keguguran di dalam kandungan. Padahal baru beberapa saat saja sudah pecah ketubannya. Pecah proses transaksi ide mengejawantahkan diri menjadi rangkaian tulisan utuh. Meski tidak sempurna setidaknya ia sudah matang secara konsep tulisan. Enak dibaca, runtut dalam penyampaiannya dan mudah dicerna oleh calon pembaca.  Lagi-lagi harus ditegaskan kembali, apalah daya nasib buruk menimpa diri tanpa dinyana. Tragedi semacam inilah yang tidak dapat dikontrol oleh diri kita. Sarana dan media terkadang menjadi penghambat atau bahkan penghalang atas tersalurkan...

Perpisahan Bukan Akhir Segalanya

Dokpri: Calon Buku Kenangan Kelas 6 Sempurna sudah, enam tahun Ananda semua (kelas 6) menjadi bagian keluarga besar SDIT Baitul Qur'an. Duka dan suka cita tentu menjadi bumbu kehidupan yang pernah dilalui bersama. Semuanya itu menjadi jejak kenangan yang menandakan kita adalah keluarga. Satu ikatan yang tak akan kendur dan putus meski tersekat ruang dan jarak. Satu babak kehidupan yang tak mudah kita lupakan begitu saja.  Tak terasa, kini anak-anak yang saya cintai itu sudah dewasa dan diwisuda. Baju kebesaran, toga dan penerimaan ijazah menjadi simbol kesakralannya. Selamat atas prestasi dan kelulusan yang diraih. Laiknya kedua orangtua kandungmu, saya (mewakili seluruh dewan asatidz) pun bangga kepada kalian semua.  Kendati begitu janganlah cepat berpuas hati terlebih dahulu karena kelulusan ini bukanlah akhir dari segalanya, bukanlah akhir dari perjuanganmu, melainkan awal dari perjuangan untuk mewujudkan cita-cita. Lihatlah ke depan, tantangan baru sudah menanti di anak ta...

Cenderamata Berharga

  Dokpri: Cenderamata buku kang Ajip Rosidi dari Prof. Naim "Jangan biarkan hari-harimu berlalu tanpa membaca, menulis, berbagi ilmu dan menebarkan cinta", Buya Husen Muhammad   Mendapatkan cenderamata buku dalam acara anjangsana dan silaturrahmi di kediaman Prof. Naim (sapaan akrab untuk Prof. Dr. Ngainun Naim, M. HI.) adalah salah satu hal yang berharga. Berharga karena memang lebih bernilai tinggi jika ditinjau dari segi kemanfaatan dalam jangka panjang. Lain soal dalam pandangan kalangan penganut id-ego ala Sigmund Freud, mungkin satu eksemplar buku itu tak lebih berharga dari seonggok makanan.  Kiranya sudah menjadi rahasia umum jika makanan dapat memuaskan hasrat nafsu dan kepuasan personal dalam jangka pendek. Itu pun harus diganjar dengan konsumsi yang terbatas, porsi yang pas dalam kurun waktu tertentu. Ada pun jika berlebihan dan melampaui batas, seperti yang kita pikirkan, akan menimbulkan dampak negatif. Memicu tumbuhnya berbagai jenis penyakit dari dalam tubu...