Langsung ke konten utama

Postingan

Karmina: Mencari Ilmu

Gambar hanya pemanis #Karmina Oleh: Roni Ramlan  1. Beli koran Jawa Pos di pasar Biru Hidup menjadi mudah dengan ilmu 2. Liburan panjang ke negeri China  Dengan ilmu hidup lebih bermakna  3. Makan soto Lamongan di pinggir jalan Ayo belajar menggapai rida Tuhan 4. Membaca buku di pagi hari Dengan menulis hidup lebih berarti  5. Jalan-jalan ke pantai Parangtritis  Jangan malas ayo menulis  6. Kuda delman langganan berkacamata  Pelajar tak boleh malas untuk membaca  7. Minum ronde di malam Rabu Muda-mudi harus rajin menuntut ilmu  8. Karena gempa piring pecah Dengan ilmu masa depan cerah 9. Buah belimbing rasanya masam Dengan ilmu hidup tidak suram 10. Ubi jalar dikukus empuk  Semangat belajar harus dipupuk  Ciamis, 29 Juni 2024 ***** Ini merupakan postingan pertama saya tentang karmina. Jadi jangan heran jika masih belum begitu lihai dan mempesona. Kendati begitu, saya selalu terbuka akan masukkan dan pandangan yang membangun untuk ke...

Mendedah Keimanan Seorang Penulis

  Gambar hanya pemanis: Buku Seni Merayu Tuhan Satu waktu seorang lelaki ahli IT sempat bertanya kepada saya tentang apa keuntungan bergabung dengan komunitas literasi. Bukan hanya bergabung namun soal mengelola dan reward apa yang hendak diterima. Diterima secara pribadi atau pun oleh seluruh anggota di dalamnya.  Secara intens, ia mencecar saya dengan berondong pertanyaan fundamental bekerja. Sudah dapat ditebak saya kira, akan kemana muara maksud dari pertanyaan itu berlabuh. Tak lain dan tak bukan deretan pertanyaan hanya berujung materialistis semata. Sebab, ia berpikir, segala hal yang melibatkan tenaga dan pikiran harus diganjar dengan materiil. Jika tidak demikian, tampak zalim dan sia-sia. Lantas, bagaimana tanggapan saya? Dengan santai saya menyodorkan jawaban alakadarnya. Komunitas itu memberikan banyak pengalaman, pengetahuan dan jejaring relasi serta investasi di masa depan. Tentu saja semua itu tidak akan didapatkan secara cuma-cuma di luar sana. Salah satunya, a...

Telanjur Kecewa

Gambar tangkap layar dari aplikasi Google Workspace yang nge-lag Kecewa bukan kepalang! Ya, mungkin ungkapan itu yang benar-benar menunjukkan perasaan saya saat mendapati aplikasi google workspace nge-lag secara tiba-tiba. Padahal baru beberapa saat saya menyelesaikan satu tulisan di sana. Tulisan dengan tajuk: Memupuk Semangat Berhaji Sejak Dini itu sungguh malang nasibnya. Malang, sebab sebelum ia lahir ke dunia dengan normal harus keguguran di dalam kandungan. Padahal baru beberapa saat saja sudah pecah ketubannya. Pecah proses transaksi ide mengejawantahkan diri menjadi rangkaian tulisan utuh. Meski tidak sempurna setidaknya ia sudah matang secara konsep tulisan. Enak dibaca, runtut dalam penyampaiannya dan mudah dicerna oleh calon pembaca.  Lagi-lagi harus ditegaskan kembali, apalah daya nasib buruk menimpa diri tanpa dinyana. Tragedi semacam inilah yang tidak dapat dikontrol oleh diri kita. Sarana dan media terkadang menjadi penghambat atau bahkan penghalang atas tersalurkan...

Perpisahan Bukan Akhir Segalanya

Dokpri: Calon Buku Kenangan Kelas 6 Sempurna sudah, enam tahun Ananda semua (kelas 6) menjadi bagian keluarga besar SDIT Baitul Qur'an. Duka dan suka cita tentu menjadi bumbu kehidupan yang pernah dilalui bersama. Semuanya itu menjadi jejak kenangan yang menandakan kita adalah keluarga. Satu ikatan yang tak akan kendur dan putus meski tersekat ruang dan jarak. Satu babak kehidupan yang tak mudah kita lupakan begitu saja.  Tak terasa, kini anak-anak yang saya cintai itu sudah dewasa dan diwisuda. Baju kebesaran, toga dan penerimaan ijazah menjadi simbol kesakralannya. Selamat atas prestasi dan kelulusan yang diraih. Laiknya kedua orangtua kandungmu, saya (mewakili seluruh dewan asatidz) pun bangga kepada kalian semua.  Kendati begitu janganlah cepat berpuas hati terlebih dahulu karena kelulusan ini bukanlah akhir dari segalanya, bukanlah akhir dari perjuanganmu, melainkan awal dari perjuangan untuk mewujudkan cita-cita. Lihatlah ke depan, tantangan baru sudah menanti di anak ta...

Cenderamata Berharga

  Dokpri: Cenderamata buku kang Ajip Rosidi dari Prof. Naim "Jangan biarkan hari-harimu berlalu tanpa membaca, menulis, berbagi ilmu dan menebarkan cinta", Buya Husen Muhammad   Mendapatkan cenderamata buku dalam acara anjangsana dan silaturrahmi di kediaman Prof. Naim (sapaan akrab untuk Prof. Dr. Ngainun Naim, M. HI.) adalah salah satu hal yang berharga. Berharga karena memang lebih bernilai tinggi jika ditinjau dari segi kemanfaatan dalam jangka panjang. Lain soal dalam pandangan kalangan penganut id-ego ala Sigmund Freud, mungkin satu eksemplar buku itu tak lebih berharga dari seonggok makanan.  Kiranya sudah menjadi rahasia umum jika makanan dapat memuaskan hasrat nafsu dan kepuasan personal dalam jangka pendek. Itu pun harus diganjar dengan konsumsi yang terbatas, porsi yang pas dalam kurun waktu tertentu. Ada pun jika berlebihan dan melampaui batas, seperti yang kita pikirkan, akan menimbulkan dampak negatif. Memicu tumbuhnya berbagai jenis penyakit dari dalam tubu...

Trial Class dan Panen Karya

Dokpri: Siswa-siswi sedang melakukan transaksi jual beli  Bahagia tak terkira, minggu terakhir di bulan April (27/04/2024) TKIT dan SDIT Baitul Quran--sebagai bagian dari lembaga di bawah Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an--telah menghelat dua acara langsung. kedua acara tersebut yakni Trial Class seri kedua dan Panen Karya. Dalam rangka menyukseskan penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun pelajaran 2024/2025 Keluarga besar Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Quran dengan mantap menghelat Trial Class. Salah satu opsi yang diambil setelah sebelumnya melakukan beragam cara promosi lembaga. Salah satu, namun bukan berarti jalan buntu.  Mensosialisasikan melalui media sosial seluruh sumber daya manusia yang ada di lembaga, masang banner, memuat iklan di kacamata Tulungagung, menyebarkan browser di ruang publik hingga membuat MoU dengan taman kanak-kanak di sekitar adalah upaya yang getol didengungkan akhir-akhir ini.  Tahun ini adalah tahun pembuka untuk perhelatan Trial Class d...

Komunitas sebagai Akar

Dokpri: jejak kopdar di kediaman Prof. Naim Kejenuhan dan kerapuhan terkadang menjadi tantangan laten yang acap kali susah dikendalikan seorang penulis single fighter. Bagi penulis solo (tanpa bergabung sebagai bagian dari komunitas literasi) melakukan evaluasi dan perjuangan mandiri terasa begitu berat. Berat karena dirasa banyak tantangan yang harus dihadapi. Tak ayal jika kemudian dalam proses panjangnya berdampak pada kadaritas semangat berkarya yang fluktuatif.  Posisi itu diibaratkan seorang bujang yang tidak pandai manajemen waktu dan licin akan keuangan. Bahkan dalam banyak kasus tertentu seorang bujang lebih pandai dalam urusan molor, kedodoran dan lupa. Lupa dalam mengatrol urusan yang sifatnya remeh-temeh sampai dengan kebutuhan primer hidup. Mngurus dan memperbaiki kebutuhan diri sendiri dengan layak misalnya saja. Sementara molor dalam menghadiri acara sudah menjadi budaya.  Mungkin analogi tersebut terlalu sarkas namun bukankah kebanyakan di antara kita selalu te...