Langsung ke konten utama

Postingan

Petuah Bijak

Dokori foto dari grup WA Berkunjung ke pasar Minggu Pulang-pulang beli tomat Mari giat menuntut ilmu Agar hidup lebih manfaat * Baca komik asyik rasanya Cepat selesai sekali duduk Jalanilah hidup penuh waspada Agar bahagia mudah didapuk ** Beli kurma ajwa seperempat Ditaruh meja untuk berbuka Rajin-rajinlah menuaikan salat Agar engkau masuk surga *** Buah naga buah kedondong Dibeli di pasar Koja Hidup jangan suka berbohong Takutlah engkau masuk neraka **** Sarapan pagi berlauk cumi Bumbu masaknya pakai kencur Mari kita banyak bersilaturahmi Agar diberi panjang umur ***** Rambut panjang bagus dicukur Biar rapi ganteng bertambah Mari kita banyak bersyukur  Agar rezeki kian melimpah  ****** Burung beo burung kakatua Berjalan kecil di teras Mari galakan tradisi membaca Kelak engkau berwawasan luas ******* Hari Minggu beli Matoa Rasanya manis saat dikunyah Giatlah berbakti kepada orangtua Agar hidupmu penuh berkah ******** Siang-siang minum es tebu Rasanya manis saat diteguk Taatla...

Transaksi Literasi Berlanjut

Dokpri foto dari grup WA RVL Transaksi literasi antara saya dan Qadira belum usai. Dalam konteks ini saya ingin menyebut peminjaman buku itu sebagai transaksi literasi. Mengapa demikian? Sebab prosesnya tidak sederhana. Setelah khatam membaca sempat ada diskusi kecil saat saya mengembalikan buku komik milik Qadira.  Bukan hanya bersama Qadira, namun dengan beberapa temannya dan seorang guru yang mendapuk diri sebagai wali kelas dua. Lagian tidak hanya itu, toh, saya juga membuat beberapa catatan review tentang buku yang dibaca.  Tidak percaya? Silakan baca postingan Anak Penjajak Komik di blog pribadi saya: www.dewaralhafiz.blogspot.com. Baca pula artikel Komik Next G Besutan Muffin yang telah saya unggah di blog keroyokan Kompasiana. Sedangkan lanjutannya, ya, ini yang sedang anda baca. Jadi tampaknya sudah tepat jika saya kekeh ingin menyebutnya dengan transaksi literasi.  Ada proses dan tahapan yang ditempuh. Mulai dari peminjaman buku, proses baca, review, pengembalia...

Komik Next G Besutan Muffin

  Dokpri: Salah satu komik Qadira Suatu hari di saat penat, saya sengaja mengunjungi kelas 2 untuk meminjam koleksi komik Qadira. Dengan senang hati ia menjereng koleksi komiknya di atas meja. "Ustadz mau pilih yang mana?" Seloroh Qadira. "Komik yang ceritanya seru, ada gak?" Saya menimpalinya. Qadira pun menyodorkan pilihan komik yang menurutnya memuat cerita seru dan memanjakan pembaca. Sebelum berpaling dari kelas ia mengingatkan saya, "Kalau sudah selesai jangan lupa segera dikembalikan ya, tadz". Saya menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujuinya. Cukup sepuluh menit saja untuk saya menuntaskan komik setebal delapan puluhan lembar itu. Bak dahaga yang belum tuntas terpuaskan, saya pun kembali meminjam buku komik lain. Tuntas baca dikembalikan. Judul komik baru diganyang. Terhitung ada empat kali proses barter. Hari itu saya berhasil menamatkan lima buku komik dengan ragam ketebalan. Membaca komik itu ternyata asyik. Media pelipur lara yang tepat...

Anak Penjajak Komik

Dokpri: Qadira dengan koleksi komiknya Belakangan saya dibuat takjub melihat pemandangan tak biasa di kelas 2 SDIT Baitul Quran. Takjub bukan karena huru-hara sedang meluluhlantakkan kursi dan meja. Bukan, bukan karena mereka sedang melakukan kegaduhan, bullying dan kenakalan meronta-ronta yang tampak di depan mata melainkan fenomena yang menyegarkan hati.  Bukan hanya maknyes di hati saya kira namun fenomena yang membuat hati merasa bangga: terketuk, kagum dan penasaran sekaligus menampar pipi--bagi siapa pun yang melihat. Lha, memang apa? Baca komik. Cuma baca komik? Tentu tidak. Tidak sedangkal itu kejadiannya.  Almira dan Qadira adalah dua siswi yang membuat saya takjub itu. Mereka berbeda dari siswa-siswi lain. Jika umumnya anak menjadikan semua tempat untuk bermain, bermain di semua tempat sesuka hati, bahkan anak hanya mau membaca saat kegiatan belajar mengajar belangsung maka berbeda dengan dua siswi tersebut. Almira dan Qadira lebih suka memanfaatkan waktu luang berte...

Gadis Penjual Pukis

foto ilustrasi AI dari google Freya adalah seorang gadis yang hidup di desa Kenari. Dia tinggal bersama ibu yang sakit-sakitan dan seorang adik yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan. Tragedi yang merenggut kebebasan Freya sebagai siswa kelas dua sekolah menengah pertama. Semenjak kelihangan sang ayah Freya mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga dengan menjajakan pukis milik tetangga.  Setiap hari Freya bangun sebelum ayam berkok. Ibu adalah tanggung jawab pertama yang harus ia rawat. Di sela-sela waktu ia menyempatkan diri berolahraga bersama sang adik. Barulah setelah itu mereka kompak menata rumah, membersihkan diri dan berangkat ke sekolah dengan menggembol pukis.  Kue pukis itulah harapan penyambung nyawa keluarga mereka satu-satunya. Walau kadang pukis tidak ludes terjual namun setidaknya ada sepeser-dua peser uang yang rutin masuk ke kantong untuk membeli beras. Satu liter beras cukup untuk penghidupan keluarga rap...

Mendedah Dapur Parenting

Dokpri: Dr. Naharin sedang presentasi Halal Bihalal dan Parenting menjadi agenda rutin tahunan di keluarga besar Yayasan Rumah Tahfidz Baitul Qur'an. Sejak melabuhkan diri di SDIT Baitul Qur'an, tercatat, saya sudah empat kali merasakan riuh: lungguh, gupuh dan suguh serta khidmat dalam kegiatan tersebut. Berarti, empat tahun sudah saya mengabdikan diri di lembaga ini. Mulanya, agenda Halal Bihalal ini tidak digabung dengan program parenting. Keduanya berjalan masing-masing, dihelat di waktu yang berbeda sesuai dengan program kerja. Akan tetapi meninjau efektivitas dan efisiensi kesempatan maka disepakatilah integrasi kegiatan. Efektivitas dan efisiensi ini merujuk pada banyak hal. Mulai dari alokasi dana, hemat energi, fasilitas, kesediaan narasumber sampai dengan momentum. Dahulu, manakala parenting berjalan di rel sendiri nasibnya sempat laa yamutu wala yahya. Partisipasi dan antusias orangtua siswa fluktuasi. Bahkan kehadiran mereka dapat dihitung jari. Indikasi itu ditin...

Distingsi Jarak dalam Kopdar

Dokpri: Menerima penghargaan RVL yang diwakili Puang Daswatia Persoalan lain yang tak kalah menarik diperbincangkan dari suksesi perhelatan kopdar adalah distingsi jarak dan bonus demografi. Dua faktor penentu terhadap kontribusi dan kuantitas partisipan anggota. Faktor yang selanjutnya menjadi bahan pertimbangan akut masing-masing personal. Kedua faktor tersebut lantas akan dibredeli terpisah secara lugas lebih lanjut.  Distingsi jarak menitikberatkan fokus pada perbedaan jarak yang terpaut di antara anggota menuju titik kumpul kopdar. Alhasil, ruang lingkup perihal distingsi jarak meliputi titik awal pemberangkatan, jarak tempuh, transportasi, alokasi waktu sampai dengan tiba di lokasi kopdar. Tampak sederhana namun butuh pengorbanan yang tidak sedikit dalam hal materiil dan tenaga.  Persoalan ini kian kompleks manakala dibenturkan dengan eksistensi anggota komunitas yang tersebar dalam skala nasional. Jelas, fakta ini menegaskan masing-masing anggota melakukan perjuangan da...